Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific

Abrasi Sungai Cipager Ancam Masjid Bersejarah Bawah Tanah Cirebon

Skintific

Cirebon – Abrasi Sungai Cipager Sebuah situs bersejarah kembali menghadapi ancaman kerusakan akibat fenomena alam. Masjid Bawah Tanah Cirebon, yang dikenal sebagai salah satu peninggalan kuno bernilai tinggi di wilayah tersebut, kini terancam oleh abrasi Sungai Cipager yang semakin menggerus area di sekitarnya.

Masjid unik yang terletak di kawasan Kecamatan Lemahabang itu selama ini menjadi daya tarik wisata religi sekaligus cagar budaya yang mencerminkan perjalanan panjang sejarah Islam di Cirebon. Namun erosi yang terjadi di bantaran sungai membuat kekhawatiran masyarakat dan pemerhati sejarah semakin meningkat.

Skintific

Dinding Sungai Mulai Runtuh, Jarak ke Masjid Kian Dekat

Berdasarkan pantauan warga, abrasi Sungai Cipager semakin parah dalam beberapa bulan terakhir. Tanah di sisi sungai beberapa kali longsor, membuat jarak antara garis erosi dan bangunan masjid semakin dekat.

Seorang tokoh masyarakat setempat mengatakan bahwa jarak antara tepi sungai dengan sisi masjid kini hanya sekitar beberapa meter saja.

“Dulu masih jauh, tapi sekarang tanahnya terus hilang sedikit demi sedikit. Kalau dibiarkan, masjid bisa ikut ambruk,” ujarnya.

Abrasi Sungai Cipager
Abrasi Sungai Cipager

Baca Juga :  Bikin Macet di Jalur Pantura, Dishub Cirebon Garuk Puluhan Jukir Liar

Kondisi ini membuat warga waswas, apalagi struktur masjid yang berada di bawah permukaan tanah tentu lebih rentan jika pondasi di sekelilingnya terganggu.

Masjid Bawah Tanah, Warisan Sejarah yang Langka

Desainnya mencerminkan gaya arsitektur kuno: dinding tebal dari bata merah, ventilasi kecil, dan ruang utama yang sederhana namun sarat nilai sejarah. Masjid ini sering dikunjungi peneliti, peziarah, hingga pelajar yang ingin mengenal jejak awal penyebaran Islam di tanah Jawa bagian barat.

Karena posisinya berada lebih rendah dari permukaan tanah, masjid ini sangat bergantung pada kestabilan kontur tanah di sekitarnya.

Warga Khawatir Masjid Akan Rusak Jika Tidak Ada Penanganan

Sejumlah warga yang tinggal di area sekitar Masjid Bawah Tanah mengaku khawatir bahwa abrasi akan semakin parah seiring musim hujan. Debit air Sungai Cipager diperkirakan meningkat drastis pada puncak musim penghujan, yang dapat mempercepat proses erosi.

“Kalau hujan besar, arus sungai tambah kuat. Kami takut tanah yang tersisa tidak bertahan lama,” kata salah satu warga.

Warga berharap pemerintah segera turun tangan sebelum kerusakan terjadi pada cagar budaya tersebut.

Pemerintah Daerah Turun Meninjau Lokasi

Menanggapi laporan masyarakat, perwakilan Pemerintah Kabupaten Cirebon bersama dinas terkait telah meninjau lokasi abrasi. Tim teknis diminta menilai kondisi tanah dan mengukur potensi ancaman terhadap struktur masjid.

Berdasarkan penilaian awal, abrasi memang sudah masuk kategori mengkhawatirkan. Beberapa titik di bantaran sungai terpantau mengalami penurunan tanah yang cukup tajam.

Pemerintah menyatakan akan menyusun langkah penanganan darurat sekaligus rencana jangka panjang untuk pengamanan kawasan sungai.

Solusi Penanganan: Bronjong atau Penguatan Tanggul

Tim teknis menyampaikan beberapa usulan penanganan, antara lain:

  • pemasangan bronjong kawat di tepi Sungai Cipager

  • pembangunan tanggul tambahan untuk menahan erosi

  • pengalihan arus kecil untuk mengurangi tekanan air pada tepi sungai

  • penguatan tanah menggunakan material batu dan beton

Namun pemerintah masih menunggu hasil kajian lengkap untuk menentukan langkah yang paling efektif sekaligus ramah terhadap lingkungan dan kelestarian situs sejarah.

Pemerhati Sejarah Minta Perlindungan Maksimal

Sejumlah komunitas pecinta sejarah Cirebon mendesak agar pemerintah benar-benar serius melindungi Masjid Bawah Tanah.

Menurut mereka, masjid tersebut bukan hanya tempat ibadah tetapi juga bukti otentik peradaban masa lalu yang tidak bisa digantikan. Jika rusak akibat abrasi, nilai sejarah dan arsitekturnya akan hilang selamanya.

“Cagar budaya tidak boleh menunggu rusak dulu baru diperbaiki,” tegas salah satu pemerhati sejarah.

Warga Sementara Pasang Ranting dan Karung Tanah

Sambil menunggu tindakan dari pemerintah, warga sekitar berinisiatif memasang karung tanah dan ranting pohon di sepanjang tepi sungai untuk menahan erosi sementara. Meski tidak terlalu kuat, langkah itu diharapkan bisa sedikit memperlambat laju abrasi.

“Yang penting ada usaha dulu daripada tidak sama sekali,” ujar warga lain yang terlibat dalam kegiatan gotong royong.

Harapan agar Situs Ini Tetap Terjaga

Masyarakat Cirebon berharap Masjid Bawah Tanah bisa tetap berdiri kokoh dan tidak terdampak kerusakan lebih parah. Mereka menilai masjid itu memiliki nilai spiritual sekaligus kebanggaan sejarah yang harus diwariskan kepada generasi mendatang.

Skintific