Cirebon – Terungkapnya Ancaman Kasus pembunuhan tragis terhadap Dea Permata Karisma (27) di Jatiluhur, Purwakarta mengguncang masyarakat, karena terungkap bahwa ancaman yang diterimanya sebelum tewas ternyata fiktif—rekayasa oleh pelaku sendiri.
Suami Dea, Fery Riyana (38), mengungkap bahwa selama ini mereka rutin menerima laporan mengenai orang misterius yang mengancam, tetapi ternyata cerita itu hanyalah karangan palsu pelaku
“Pelaku sering bilang ada yang datang malam-malam ke rumah ada yang membegal di jalan,” kata Fery.

Baca Juga : Pemdes di Cirebon Serbu Kantor DLH gegara Kebijakan Demul soal Sampah
Sekitar Juli 2025, Fery sempat berkonsultasi dengan pihak kepolisian terkait ancaman tersebut. Polisi menyarankan pemasangan CCTV dan menganggap ancaman bisa terungkap lewat alat itu
Hingga saat ini, motif pembunuhan oleh pelaku yang dekat itu belum jelas. Suami korban meragukan jika pelaku memiliki perasaan khusus, karena jika begitu, tentu korban suami yang menjadi sasaran
Selain ancaman ini fiktif, keluarga juga mengungkap bahwa sepuluh hari sebelum kematian, Dea sempat mendapatkan gangguan serius: ada tiga orang berpakaian bertopeng yang mengintai rumahnya
Ibu mertuanya sempat melaporkan ke Babinsa dan Polsek Jatiluhur, namun tidak ada tindak lanjut atau respons yang memadai dari aparat
Saat pagi pembunuhan, pesan terakhir Dea kepada suaminya sederhana: “Jangan lupa makan.”
Narasi dramatis pelaku kian menambah kebingungan—pas suami dalam perjalanan, pelaku menyebut mobil putih dan sang korban menyuruh suami membeli susu, padahal Dea tidak suka susu. Aksi itu membangkitkan kecurigaan suami
Setelah insiden, Polres Purwakarta bergerak cepat: menangkap pelaku kurang dari 24 jam pasca kejadian, membatasi kemungkinan pelarian
Polres masih menyelidiki motif pembunuhan ini —apakah karena kecemburuan, ketergantungan emosional, atau gangguan psikologis yang
ini Keluarga berharap alasan sebenarnya terkuak segera, seraya menyesali bahwa loyalitas terbalik menjadi tragedi, bukan pelindung
Fakta bahwa ancaman itu fiktif memperkuat pentingnya menyaring informasi dan memeriksa kebenaran, sekaligus tidak menyepelekan setiap indikasi ancaman, ini meski terdengar tidak masuk akal.






