Cirebon – Ngantor Pakai Sepeda seorang karyawan yang memilih berangkat kerja menggunakan sepeda menjadi perbincangan hangat di media sosial. Meski ia mengendarai sepeda premium dengan harga belasan hingga puluhan juta rupiah, beberapa rekan kerjanya justru memandangnya sebelah mata dan melabelinya sebagai “miskin”. Kisah ini memicu diskusi luas tentang pola pikir masyarakat terhadap gaya hidup, kendaraan, serta standar sosial di lingkungan kerja.
Pilihan Transportasi: Efisiensi, Bukan Gengsi
Pria berusia 29 tahun itu menceritakan bahwa ia telah hampir satu tahun memilih menggunakan sepeda ke kantor. Alasannya sederhana: lebih hemat, sehat, dan efisien. Ia tak perlu lagi menghabiskan waktu berjam-jam terjebak macet atau mengantre di stasiun. Selain itu, ia ingin meningkatkan kebugaran fisiknya tanpa harus merogoh kocek lebih untuk gym.
Namun, pilihan ini justru sering dianggap aneh oleh sebagian rekan kerjanya.
“Saya sering dengar bisik-bisik: ‘Kasihan amat, ngantor pakai sepeda.’ Padahal harga sepeda saya lebih mahal dari motor mereka,” ujarnya dalam unggahan yang beredar.
Sepeda Premium, Tapi Masih Direndahkan

Baca Juga : Cirebon Raya Sepekan Kades Kuningan Korupsi Dana Desa Buat Bayar Utang
Karyawan tersebut menyebutkan bahwa ia menggunakan sepeda lipat edisi terbatas yang harganya mencapai belasan juta rupiah. Di komunitas pesepeda, sepeda jenis ini termasuk kelas atas, bahkan menjadi barang koleksi.
Meski begitu, beberapa orang di kantornya tetap menilai sepeda sebagai kendaraan “orang yang tidak mampu membeli motor atau mobil”. Label itu sering muncul setiap kali ia memarkirkan sepeda di area lobby.
“Ada yang bercanda, ‘Ayo patungan beliin motor baru buat dia.’ Saya cuma senyum, padahal cicilan mobil dia telat mulu,” katanya sambil tertawa getir.
Kisah ini membuat banyak warganet ikut menyorot betapa dalamnya budaya gengsi yang masih melekat di perkotaan.
Budaya Materialistis Masih Kuat di Lingkungan Kerja
Fenomena ini dinilai mencerminkan kecenderungan masyarakat yang masih menilai status sosial dari kendaraan. Mobil dianggap simbol kesuksesan, motor simbol perjuangan, sedangkan sepeda—semahal apa pun—dianggap bukan “kendaraan prestise”.
Sosiolog perkotaan menilai bahwa cara pandang semacam ini terbentuk dari penilaian dangkal terhadap penampilan.
“Di kota besar, kendaraan sering menjadi patokan kelas sosial. Akibatnya, pilihan transportasi fungsional dianggap tidak prestisius,” kata seorang pengamat sosial.
Padahal di berbagai negara maju, bersepeda ke kantor merupakan gaya hidup modern yang justru menunjukkan kesadaran lingkungan dan efisiensi waktu.
Komentar Publik: Ironi di Negeri Macet
Unggahan tersebut viral dan memicu beragam komentar. Banyak warganet memberikan dukungan dan mengatakan bahwa bersepeda justru pilihan cerdas.
Beberapa komentar yang muncul:
-
“Di negara maju, CEO aja ke kantor naik sepeda. Di sini malah dibilang miskin.”
-
“Harga sepedanya mungkin bisa beli dua motor, tapi mindset orang sekitar yang murah.”
-
“Yang penting sehat dan hemat, bukan gaya tapi tersiksa cicilan.”
Fenomena ini semakin menegaskan bahwa masih banyak masyarakat yang lebih memprioritaskan tampilan dibanding esensi.
Transportasi Ramah Lingkungan Mulai Diminati
Terlepas dari komentar miring yang diterimanya, tren bersepeda di kota-kota besar Indonesia sebenarnya sedang meningkat. Banyak pekerja muda memilih sepeda karena lebih fleksibel di tengah kondisi lalu lintas yang tak bisa diprediksi.
Pemda di sejumlah kota juga telah menyediakan jalur khusus sepeda, parkir sepeda, dan fasilitas pendukung lainnya. Jika tren ini terus berkembang, bukan tidak mungkin stigma terhadap pesepeda akan berubah di masa depan.
Penutup: Pilihan Hidup Tak Perlu Diukur dari Gengsi
Kisah seorang pekerja yang tetap direndahkan meski menggunakan sepeda mahal menunjukkan bahwa standar sosial di masyarakat masih banyak dipengaruhi oleh persepsi dangkal. Kebiasaan menilai seseorang dari apa yang ia kendarai bukan hanya tidak relevan, tapi juga tidak adil.
Pada akhirnya, pilihan transportasi adalah hak pribadi. Selama nyaman, aman, dan sesuai kebutuhan, tidak ada yang salah dengan berangkat kerja menggunakan sepeda—baik itu yang seharga ratusan ribu maupun puluhan juta rupiah.





