Sejumlah warga yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Kedung Pane secara resmi mengusulkan peninggian tanggul kepada pemerintah daerah. Masyarakat merasa khawatir karena debit air sungai sering kali meluap hingga masuk ke pemukiman saat intensitas hujan meningkat tajam. Bahkan, beberapa titik tanggul yang ada saat ini sudah mengalami keretakan serius akibat gerusan arus air yang sangat kuat selama musim penghujan.
Usulan ini bertujuan untuk mencegah kerugian materiil serta menjamin keselamatan ratusan kepala keluarga yang bermukim di daerah rawan banjir. Oleh karena itu, perwakilan warga telah mengirimkan surat permohonan kepada dinas terkait agar segera melakukan peninjauan teknis di lapangan. Warga ingin pemerintah memberikan kepastian mengenai rencana perbaikan infrastruktur pencegah banjir tersebut sebelum puncak musim hujan tiba.
Kekhawatiran Luapan Air ke Pemukiman
Kondisi tanggul yang rendah membuat warga selalu merasa was-was setiap kali mendung tebal menyelimuti wilayah hulu sungai. Selain itu, endapan lumpur yang cukup tebal di dasar sungai semakin memperparah luapan air karena kapasitas tampung sungai berkurang drastis. Sebab, aliran air dari wilayah perbukitan membawa material sisa pembersihan lahan yang langsung menumpuk di area pemukiman padat penduduk.
Akibatnya, jalan-jalan desa sering kali tergenang air setinggi lutut orang dewasa yang sangat mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat setempat. Namun, upaya warga melakukan kerja bakti membersihkan saluran air hanya mampu mengurangi dampak banjir secara sementara saja. Selanjutnya, pembangunan tanggul permanen yang lebih tinggi menjadi satu-satunya solusi jangka panjang yang sangat masyarakat harapkan saat ini.
Harapan Respon Cepat Pemerintah
Baca juga:Pipa Utama Pecah di Plangon, Distribusi Air 30.000 Pelanggan PDAM Cirebon Terganggu
Warga meminta pemerintah daerah untuk memprioritaskan anggaran penanganan banjir pada titik-titik krusial di sepanjang Kedung Pane. Bahkan, tokoh masyarakat setempat menyatakan kesiapan warga untuk membantu proses pengerjaan fisik jika proyek tersebut benar-benar terealisasi. Oleh sebab itu, koordinasi antara pihak kelurahan dan Dinas Pekerjaan Umum harus segera berjalan guna merumuskan skema pembangunan yang tepat sasaran.
“Kami tidak bisa tidur nyenyak jika hujan turun lebih dari dua jam. Oleh karena itu, kami sangat memohon peninggian tanggul ini segera terlaksana,” ujar salah satu warga terdampak.
Selanjutnya, pemerintah perlu melakukan pemetaan ulang terhadap area bantaran sungai yang kini mulai beralih fungsi menjadi bangunan semi permanen. Dengan demikian, proses peninggian tanggul tidak akan terkendala oleh masalah pembebasan lahan atau penolakan dari sebagian warga lainnya.
Pentingnya Normalisasi Sungai secara Terpadu
Peninggian tanggul harus berjalan beriringan dengan program normalisasi atau pengerukan sungai guna mengembalikan fungsi alami aliran air. Sebab, tanggul yang tinggi tetap memiliki risiko jebol jika tekanan air dari dasar sungai tidak terkendali dengan baik. Oleh karena itu, pendekatan teknis yang menyeluruh menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan yang bebas dari ancaman banjir tahunan.
Berikut adalah poin-poin utama usulan warga Kedung Pane:
-
Peninggian Fisik: Menambah ketinggian tanggul minimal satu meter di area yang paling rendah dan rawan jebol.
-
Perkuatan Beton: Mengganti tanggul tanah tradisional dengan struktur beton yang lebih kuat menahan beban arus air.
-
Sistem Drainase: Memperbaiki saluran pembuangan air dari rumah warga menuju sungai agar tidak terjadi arus balik saat air sungai tinggi.
Meskipun demikian, warga tetap melakukan langkah antisipasi mandiri dengan menyiapkan karung-karung pasir di depan pintu rumah mereka masing-masing. Sebagai penutup, usulan peninggian tanggul Sungai Kedung Pane ini merupakan aspirasi mendesak yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Dengan demikian, kehadiran pemerintah dalam memberikan rasa aman melalui pembangunan infrastruktur sangat masyarakat nantikan dalam waktu dekat ini.





