Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific

Ancaman Siber Meningkat IRPA Dorong Penguatan Resiliensi Industri Keuangan

Skintific

Koran Cirebon – Ancaman Siber Meningkat terhadap dunia siber terus berkembang dengan pesat, dan sektor industri keuangan menjadi salah satu yang paling rentan terhadap serangan siber. Seiring dengan meningkatnya serangan dunia maya yang semakin canggih dan kompleks, Indonesia Risk and Payment Association (IRPA), sebagai asosiasi yang menaungi berbagai sektor industri pembayaran dan keuangan digital di Indonesia, mendesak agar sektor ini lebih giat dalam memperkuat sistem keamanan siber. Penguatan resiliensi industri keuangan terhadap ancaman siber, menurut IRPA, menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan digital.

Dalam laporan yang diterbitkan pada Desember 2025, IRPA menyebutkan bahwa serangan siber terhadap sektor keuangan meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir, dengan mencatatkan ribuan serangan terhadap lembaga keuangan dan sistem pembayaran setiap tahunnya. Ancaman ini tidak hanya mengincar uang dan data pribadi, tetapi juga dapat merusak reputasi lembaga keuangan serta menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan.

Skintific

Ancaman Siber Meningkat di Industri Keuangan: Sebuah Fenomena Global

Seiring dengan berkembangnya teknologi dan digitalisasi, sektor keuangan kini lebih terbuka terhadap serangan dari dunia maya. Ancaman-ancaman tersebut mulai dari serangan phishing, malware, hingga ransomware yang bisa merusak sistem dan mencuri data penting. Cybersecurity Ventures, sebuah lembaga riset terkemuka, memperkirakan bahwa kerugian global akibat serangan siber di sektor keuangan pada tahun 2025 akan mencapai triliunan dolar AS.

Ancaman Siber Meningkat
Ancaman Siber Meningkat

Baca Juga :  Truk Tronton Muatan Pupuk Oleng Masuk Sungai di Pantura Pati

 

Di Indonesia, meskipun telah ada upaya untuk memperketat pengamanan siber, ancaman terus meningkat. Menurut data dari Cybersecurity Indonesia (CSI), industri perbankan dan fintech Indonesia menjadi dua sektor yang paling sering menjadi sasaran serangan siber.

“Ancaman siber ini bukan hanya persoalan teknis, tapi juga bisa mempengaruhi stabilitas ekonomi nasional. Sebagai contoh, serangan siber terhadap bank atau sistem pembayaran bisa mengganggu operasional, merusak kepercayaan pelanggan, bahkan menurunkan perekonomian jika layanan keuangan terganggu dalam waktu lama,” ungkap Dr. Irwan Syamsudin, Ketua IRPA.

Meningkatkan Resiliensi Keamanan Siber: Tanggung Jawab Bersama

Untuk menghadapi tantangan ini, IRPA menyarankan agar industri keuangan di Indonesia memperkuat resiliensi siber. Menurut IRPA, resiliensi siber adalah kemampuan industri keuangan untuk mengatasi, merespons, dan pulih dari serangan siber, sekaligus menjaga keberlanjutan layanan tanpa mengorbankan data dan transaksi nasabah.

“Resiliensi bukan hanya tentang mencegah serangan, tetapi juga bagaimana institusi keuangan bisa tetap beroperasi dengan aman dan lancar meski ada gangguan. Resiliensi itu mencakup pencegahan, deteksi dini, dan respons yang cepat,” jelas Irwan Syamsudin.

  1. Peningkatan Investasi pada Keamanan Siber:
    Lembaga keuangan harus mengalokasikan lebih banyak dana untuk investasi di bidang teknologi keamanan siber. IRPA mendorong penguatan infrastruktur yang lebih baik dan lebih canggih untuk menghadapi ancaman yang semakin berkembang. Teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning kini dapat digunakan untuk memantau dan mendeteksi potensi serangan lebih dini.

  2. Peningkatan Literasi dan Pelatihan Keamanan Siber:
    Sumber daya manusia yang terlatih menjadi faktor kunci dalam menghadapi ancaman siber. IRPA menekankan pentingnya pelatihan dan pengembangan keterampilan di bidang keamanan siber bagi pegawai dan pengelola layanan keuangan.

  3. Kolaborasi antara Pemerintah, Industri, dan Regulator:
    Penguatan kolaborasi antara pihak pemerintah, regulator, dan industri keuangan sangat penting. IRPA mendorong pembentukan regulasi yang lebih ketat terkait keamanan siber serta menciptakan standar yang jelas dan terpadu di seluruh sektor keuangan.

  4. Adopsi Teknologi Keamanan yang Terdepan:
    Penggunaan teknologi enkripsi yang lebih canggih dan penggunaan blockchain untuk transaksi juga merupakan solusi untuk melindungi data dan transaksi nasabah. Dengan blockchain, misalnya, keamanannya lebih terjamin karena sifatnya yang terdesentralisasi, mempersulit pihak tidak bertanggung jawab untuk merusak atau mencuri data.

  5. Pengujian Sistem Keamanan secara Berkala (Penetration Testing):

Menjaga Kepercayaan Nasabah: Kunci Keberhasilan

Bagi lembaga keuangan, kepercayaan nasabah adalah segalanya. Serangan siber yang berhasil dapat merusak kepercayaan publik terhadap sebuah institusi, yang berpotensi menyebabkan penurunan jumlah nasabah, bahkan kerugian finansial yang besar. Oleh karena itu, selain penguatan teknis, institusi keuangan juga perlu fokus pada pemulihan citra dan memberikan jaminan keamanan yang lebih baik kepada nasabah.

“Salah satu hal yang harus kita jaga adalah reputasi. Jika lembaga keuangan gagal menjaga sistem keamanannya dan data nasabah bocor, maka kerugian yang terjadi bukan hanya dalam bentuk uang, tetapi juga hilangnya kepercayaan,” kata Irwan Syamsudin.

Skintific